BARISAN VIDEO

Loading...

KOLOM PENCARIAN

Memuat...

LABEL

Selasa, 13 Maret 2012

DATU SUBAN GURU PARA DATU & WALI DI KALIMANTAN

Bismillaahirahmaanirahiim,
Cerita tentang riwayat hidup Datuk Suban, guru dari Datu
Sanggul yang sering disebut juga datu sya'iban ibnu zakaria zulkifli dan ibunda bernama maisyarah, beliau hidup dikampung Muning Tatakan kabupaten Tapin
Rantau Kalimantan Selatan, beliau semasa hidupnya mempunyai martabat tinggi dan mulia,peramah dan paling disegani yang patut diteladani oleh kita sebagai penerus dan pewaris yang hidup diabad modern ini.
Datu Suban adalah guru dari semua datu orang muning, selain ahli ilmu tasawuf, Datu Suban juga ahli ilmu taguh
(kebal), ilmu kabariat, ilmu dapat berjalan diatas air, ilmu maalih rupa, ilmu pandangan jauh, ilmu pengobatan, ilmu kecantikan, ilmu falakiah, ilmu
tauhid dan ilmu firasat, dengan ilmu yang dimilikinya
banyaklah orang yang menuntut ilmu kepada beliau dan yang paling terkenal
ada 13 orang. Yaitu :
1.Datu Murkat
2.Datu Taming Karsa
3.Datu Niang thalib
4.Datu Karipis
5.Datu Ganun
6.Datu Argih
7.Datu ungku
8.Datu Labai Duliman
9.Datu Harun
10.Datu Arsanaya
11.Datu Rangga
12.Datu Galuh Diang Bulan
13.Datu Sanggul
Diantara ilmu-ilmu yang selalu
diajarkan dalam setiap kesempatan beliau selalu
mengajarkan ilmu mengenal diri (ilmu ma'rifat) dengan tarekat memusyahadahkan
Nur Muhammad, hal ini tidaklah mengherankan karena sebelum Datu Suban mengajarkan ajaran makrifat
melalui tarekat Nur Muhammad ini, seorang ulama
banjar yaitu syekh Ahmad Syamsuddin Al-Banjari telah menulis asal kejadian Nur Muhammad itu, yang
naskahnya ditemukan oleh seorang orientalis bangsa
Belanda R.O.Winested.
Datu Suban dikenal sebagai wali Allah beliau memiliki karomah Kasyaf yaitu
terbukanya tabir rahasia bagi beliau sehingga dapat mengetahui sampai dimana kemampuan murid-muridnya dalam menerima ilmu-ilmu yang diberikannya, seperti akan menyerahkan kitab pusaka yang kemudian hari
dinamakan kitab Barencong,kitab tersebut beliau
serahkan kepada Datu Sanggul (Abdussamad), murid terakhir yang belajar kepada
beliau,menurut pandangan Kasyaf beliau hanya Abdussamad lah yang dapat
menerima, mengamalkan dan
mengajarkannya, karomah beliau yang lain adalah beliau mengetahui ketika akan tiba
ajalnya, ketika dari mata beliau keluar sebuah sosok yang rupanya sangat bagus,bercahaya dan berpakaian
hijau, ini berarti tujuh hari lagi beliau akan berpindah alam, empat hari kemudian dari tubuh beliau keluar lagi cahaya berwarna putih amat
cemerlang, besarnya sama dengan tubuh beliau dan
berbau harum semerbak, ini berarti tiga hari lagi beliau akan meninggalkan dunia fana ini,oleh karena itu beliau segera mengumpulkan semua murid-muridnya, setelah
semua muridnya berkumpul beliau berkata "Murid-murid yang aku cintai, kalian jangan
terkejut dengan panggilan
mendadak ini, karena pertemuan kita hanya hari ini saja lagi, nanti malam sekitar jam satu tengah malam aku akan meninggalkan dunia yang fana ini, hal ini sudah
tidak bisa ditunda tunda lagi, karena ketentuan ALLAH telah berlaku" Kemudian
beliau membacakan firman ALLAH surat An-Nahal ayat 61 yang berbunyi : "Apabila sudah tiba waktu yang
ditentukan maka tidak seorangpun yang dapat mengundurkannya dan juga tidak ada yang dapat mendahulukannya." mendengar ucapan beliau itu
semua yang hadir diam membisu seribu bahasa.
"Nah, waktuku hampir tiba" kata Datu Suban memecah kesunyian itu. "Mari kita
berzikir bersama sama untuk
mengantarkan kepergianku" kata Datu Suban lagi. Semua murid dipimpin oleh beliau serentak mengucapkan zikir "Hu Allah...Hu Allah...Hu Allah..."
"Perhatikanlah...apabila aku
turun kurang lebih 40 hasta sampai pada batu berwarna
merah sebelah dan hitam
sebelah, aku berdiri disana nanti, maka pandanglah aku dengan sebenar-benarnya, yang ada ini atau yang tiada nanti, lihatlah aku ada atau
tiada, kalau ada masih diriku ini tidak, menjadi tiada, berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian belum sejati, tetapi bila aku menjadi tiada berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian adalah ilmu sejati dan sempurna" Setelah berkata demikian beliau diam, kemudian meletuslah badan Datu Suban dan timbul asap putih, hilang asap putih dan timbul cahaya (nur) yang memancar-mancar sampai keatas ufuk yang tinggi, kemudian lenyap ditelan kemunculan cahaya rembulan. Semua yang hadir takjub menyaksikan kejadian itu, kemudian terdengar gemuruh ucapan murid-murid beliau, "Inna lillahi wainna ilaihi raaji'uun".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar